Mimpi Or Dreams

December 12th, 2008 by witamandiri

Hello to all my friends…

btw sudah lama banget gak tulis blog. Hehehe… lg pusing krn krisis global… hehehe gak ada hubungan kali. :)
Btw kali ini ingin share tentang “MImpi”…

Setiap org pasti menginginkan “Mimpi” yg Indah… :) Akan tetapi apa yg dimaksud dgn “Mimpi” itu sendiri? Apakah “Mimpi” dalam artian pada waktu kt tidur? :) hehe… atau “Mimpi” untuk mewujudkan sesuatu? :) hehehe yang pasti “Mimpi” untuk mewujudkan sesuatu untuk bisa menjadikan kenyataan, begitu kurang lebih ya? :)
Apakah arti “Mimpi” itu? yg benar: Mimpi adalah salah satu alat atau modal awal kt untuk meraih cita-cita.
Harus diingat, semua hal yg ada di dunia ini baik adanya. Akan tetapi jika cara dan porsinya berlebihan maka menjadi tidak baik.

Contoh: Ganja atau morfin (narkoba) : baik dipakai untuk seseorg yg menderita penyakit kanker (untuk menahan rasa sakit) jika dipakai menurut tempat dan caranya. Jika tidak??? banyak korbannya daripada itu.

Contoh lg : Mimpi : baik jika mimpi dipakai sebagai salah satu alat untuk meraih cita-cita kita spt yg tertulis diatas. Akan tetapi “Don’t drawn yourself in dreams”. Kebanyakan dari kita selalu tenggelam didalam mimpi hanya sedikit yg berhasil menjadikan mimpi sebagai alat untuk meraih cita2. Contoh spt : Pemilik SONY bermimpi untuk bisa mendengarkan lagu pada saat berada di jalan (tanpa harus membawa tape compo), lalu Thomas Alfa edison, alexander graham bell, dan yg tidak saya tau :P. Dan yang lainnya??? apakah tenggelam didalam Mimpi??? :) j/k ya…

So mana pilihan kt? dan kita ada dimana? apakah berada didalam mimpi? jangan terlalu lama kt bermimpi… :) hehe.. oleh sebab itu kt mesti semangat setiap hari (sama seperti kt harus mandi setiap hari) karena semangat itu mudah pudar, sama seperti kesegaran setelah mandi mudah pudar. Jadi kt mesti bersemangat atau disemangati (biasanya kt butuh disemangati) setidaknya 2x sehari spt kt mandi. Supaya kt tidak berada di dalam “Comfort Zone” or  “tenggelam didalam mimpi”.

So Keep Fighting!!! :)
Regards,
Teddy

Pengertian

July 23rd, 2008 by witamandiri

PENGERTIAN, hehehe…. :) akan tetapi kabanyakan dari kita selalu menuntut untuk "Dimengerti". Bukan kita yang harus "Pengertian"  kepada yang lain. Tapi saya hanya bisa share sesuai dengan apa yang saya serap/dapat. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita ya… Dan setelahnya kita dapat manjadi Manusia yang sangat "Pengertian" terhadap yang lain ya…

PENGERTIAN akan memberikan kita keberanian untuk menjalani kehidupan yang aman, damai, nyaman. Karena banyak dari kita berpikir hidup ini "Keras"dan untuk bertahan hidup, maka harus menjadi lebih "Keras" lagi. Seperti: Kerja lebih keras lagi, Berpikir lebih keras lagi, dan Berbicara lebih keras lagi, serta segalanya lebih keras lagi. Baru kita bisa Survive / bertahan. Hehehe… :) 

"Pengertian" disini akan saya coba Ilustrasikan sebagai "Kelembutan". Supaya kita lebih mudah mengerti apa yang dimaksud dengan "Pengertian".

Ilustrasi :

*Ketika manusia masih hidup, maka tubuhnya lembut dan elastis. Karena manusia tersebut masih hidup/benafas. Dan ketika manusia sudah mati, maka tubuhnya menjadi kaku dan keras. karena manusia tersebut sudah mati/tidak bernafas. :)

*Ketika tanaman masih hidup, dia lemah dan halus. Dan ketika tanaman sudah mati, dia kering dan rapuh.

Begitu juga hati kita, jika kita "Berkeras hati" itu tandanya hati kita sudah mati. :) Hehehe… Tetapi jika kita masih mempunyai "hati yang lembut" berarti hati kita masih hidup. :)

Karena "Keras dan Kaku" adalah ciri dari sesuatu yang sudah "mati". Akan tetapi "Lembut dan Fleksible" adalah ciri dari sesuatu yang masih "hidup". Semoga Hati kita semua masih Lembut dan Flesible ya…

Ada pepatah mengatakan : "Yang lemah mengalahkan yang kuat, atau yang Lembut mengalahkan yang Keras." Setiap kita pasti pernah mendengarnya, tetapi kita tidak dapat mengartikannya apalagi menerapkannya. :)

Jadi kita memilih untuk menjadi "Keras" atau kita memilih untuk menjadi "Lembut" ?
Lalu mulai lah dari sekarang… :)

"LEMBUT" = "PENGERTIAN"

”Tidak ada yg lebih lembut daripada "Air", Dan juga tidak ada yg mengalahkan "Air" dalam menembus benda keras." Contoh : Sekeras apapun Batu Karang, kalau setiap hari diteteskan air, maka akan berlubang juga.

Kesimpulan: Jadi kita sebagai manusia harus "Pengertian" kepada sesama/orang lain dengan cara kita mempunyai hati seperti "Air" yang "Lembut", agar kita dapat bertahan hidup di dalam kehidupan yang sangat keras ini untuk dapat melawan manusia-manusia yang berkeras hati/ mempunya hati yang keras. Supaya kita dapat menjalani kehidupan kita ini dengan aman, damai dan nyaman. :)

Lampung, 23-July-2008

Time Management

July 20th, 2008 by witamandiri
Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak
akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.
 
Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.
 
Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples.
 
Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu 
lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya: " Apakah toples ini 
sudah penuh? "
 
Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"
 
Kemudian dia berkata, "Benarkah?"
 
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil.
Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.
 
Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini sudah 
penuh?"
 
Kali ini para siswanya hanya tertegun,"Mungkin belum!", salah satu dari 
siswanya menjawab.
 
"Bagus!" jawabnya.
 
Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia 
mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah 
langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.
 
Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"
 
"Belum!" serentak para siswanya menjawab. Sekali lagi dia berkata,
 
"Bagus!"
 
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam 
toples,sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.
 
Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan 
bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"
 
Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun 
penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"
 
"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya.
 
Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :
 
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES
TERSEBUT.
 
"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu,
kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".
 
"Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau"

 

Teman Versus Sahabat

July 11th, 2008 by witamandiri

Mungkin Title yang sedikit aneh ya… :) Teman Versus Sahabat.

Jujur saja baru belakangan ini saya mengetahui adanya perbedaan antara "Teman" dengan "Sahabat". Hehehe… :) jangan dibilang bolot ya bagi anda yang sudah mengetahuinya… :)
Awalnya dimulai dari pembicaran telp dengan "seseorang" (teman / sahabat) yang bertanya kepada saya, "Apakah perbedaan antara teman dengan sahabat?" Lalu saya berpikir apa ya bedanya, bukannya sama aja? Dalam kondisi yang masih membingungkan, kemudian saya bertanya kepada dia, "Lalu kita ini teman atau sahabat?" hehehe… :) Lalu dia yang bertanya balik ke saya, "menurut elo?" hahaha…

Ya, dari sanalah saya mulai mencari apakah definisi "teman" dan "sahabat" disalam kamus. :) apakah anda juga akan mencarinya??? Selamat mencari… :)

Kalau saja kita sedikit "Peka" maka banyak sekali perbedaan antara "Teman" dangan "Sahabat" Awalnya memang saya kurang "Peka" sehingga semuanya saya menganggap sama saja, tidak ada perbedaanya. Dan merasa bingung sekali tujuh keliling mencari perbedaanya. :) Akhirnya saya mengetahuinya dan saya mau sharring sedikit mengenai hal ini. Dimana secara sederhana akan saya coba bagikan.

Dimana "teman" hanya sebatas kita berkenalan dan jarang berinteraksi. Dan setelah kita kenal serta sering berinteraksi maka kita naik tingkat menjadi "teman baik" Lalu semakin kita sering lagi berinteraksi dan mempunyai yang namanya "komitment", maka kita naik tingkat lagi menjadi "sahabat" atau kalau kita berlainan jenis bisa disebut "pacar". Lalu dari "pacar" kita mempertegas lagi komitment kita dengan ikatan yang dinamai "pernikahan" maka kita naik tingkat lagi menjadi "teman hidup" atau "suami istri". :) Itulah hidup, kita harus melalui proses by proses atau step by step. Lalu setelah kita mencapai proses sebagai "teman hidup" atau "suami istri" :) Lalu setelah itu?  kita sharing dengan topik yang berbeda tentunya.

Mungkin ini sedikit ilustrasi dari saya mengenai "Teman" Versus "Sahabat"

Kepada Sahabatku yang masih Single…

July 9th, 2008 by witamandiri

Kepada Sahabat - sahabatku yang masih Single or It’s Complicated… ;)

Kita mencoba mengibaratkan Cinta sebagai Kupu-kupu. Semakin kita mengejarnya, maka ia akan semakin menghindar.

Tetapi bila kita membiarkan ia
terbang, maka ia akan menghampiri disaat kita tak menduganya.

Cinta bisa membuat kita bahagia dan juga ia dapat menyakiti.

Dan Cinta itu akan menjadi
istimewa apabila kita berikan kepada seseorang yang layak menerimanya.

P.S. Jujur saja saya tidak tahu darimana article ini berasal. Dan sudah berapa lama ada di dalam file saya… :)

Rasanya bahagia sekali dan sangat terkesan bisa membagikan article ini kepada sahabat-sahabatku yang masih Single or It’s Complicated, :)

Awalnya sangat aneh membaca article ini, lalu saya coba sedikit merubahnya sesuai dengan skill yang ada :) agar terlihat lebih sempurna dan lebih menyentuh hati.

Pada article ini saya juga belajar untuk lebih "Menghargai Perasaan Cinta" yang ada pada diri kita, dan kepada siapa Cinta ini "pantas" kita berikan. Juga menghargai perasaan Cinta "seseorang".

Pada article ini saya juga belajar untuk lebih "Peka" melihat perasaan Cinta. Apakah ini Cinta Monyet? :) Apakah ini Cinta Sejati? atau Apakah ini Cinta-cintaan :) Dengan cara apa kita bisa mengetahuinya?  Itu rahasia dari setiap pribadi, dan coba untuk tenang, sabar dan sedikit mengintrospeksi diri kita. Dan kita berusaha untuk jujur terhadap diri kita. Karena Cinta adalah "Kasih".

Jadi sabar saja dan jangan terburu-buru untuk memilih Cinta kita. Karena kita diberikan kesempatan yang sama untuk menunggu dan memilih Cinta kita. Lalu pilihlah yang terbaik!… Fighting…

Tag Line

July 7th, 2008 by witamandiri

Pada saat ini saya merasa sangat lelah, hidup serasa berat sekali. Merasa banyak sekali percobaan dalam hidup, dan mempertimbangkan jalan yang sudah di tempuh benar atau tidak. Dan juga kondisi ekonomi yang tidak stabil, dan membuat persaingan bisnis semakin berat. Tapi saya harus tetap bertahan.

Lalu saya menemukan Tag line yang berbunyi :
"Janganlah keraskan hati, sifat yang tidak pernah lelah, dan sentuhan yang tidak pernah menyakitkan orang lain"

*Janganlah keraskan hati, saya berpikir memang selama ini secara tidak sengaja hati sy terbentuk semakin keras, krn banyaknya percobaan dalam hidup dan di dalam lingkungan bisnis yg keras gak gak mengenal teman, kawan ataupun sahabat. Baru saya sadari saya sangan membutuhkan teman. Dahulu waktu 18th yg lalu saya mempunya seorang sahabat, dan tetap berteman sampai saat ini. Akan tetapi dengan kesibukan masing - masing dan terbatasnya waktu  serta jarak yang memishkan, maka kita sulit berkomunikasi.  Saya termasuk org yg memilh untuk berteman, jadi dari kecil sampai sakarang ini teman saya hanya sedikit sekali, bisa dihitung dengan jari… :)  Saya berharap suatu saat bisa menemukan seorang sahabat lagi…

*Sifat yang tidak pernah lelah. Dengan menemukan kata ini saya langsung menjadi segar dan muncul kembali. Serasa selama ini saya tenggelam di dalam kelelahan yang berlarut-larut. Dengan segera saya akan bangkit lagi dengan sifat yang tidak pernah lelah kembali.

*Sentuhan yang tidak pernah menyakitkan orang lain. Di dalam kepercayaan saya, saya selalu diajarkan untuk tidak menyakitkan orang lain. Kalau kita tidak bersentuhan dengan orang lain maka kita tidak akan menyakitkan orang tersebut. Akan tetapi di dalam kepercayaan saya diajarkan juga jika kita bersentuhan, maka kita juga jangan menyakitkan orang tersebut. Sampai saat ini saya masih terus berprinsip pada untuk itu. Lalu saya menemukan kata "sentuhan yg tidak pernah menyakitkan orang lain" saya merasa orang yang menulis ini lebih mengerti akan artinya yg sudah dia tulis. I wish i can find the person.

Lampung. July 8, 08

KEKAYAAN MANUSIA YANG TERBESAR

July 6th, 2008 by witamandiri

Posted by Gede Prama on
2005-04-15

SEORANG sahabat yang mulai kelelahan hidup, pagi
bangun, berangkat ke kantor, pulang malam dalam kelelahan, serta amat jarang
bisa merasakan sinar matahari di kulit, kemudian bertanya: untuk apa hidup ini?
Ada juga orang tua yang sudah benar-benar lelah mengungsi (kecil mengungsi di
rumah orang tua, dewasa mengungsi ke lembaga pernikahan, tua mengungsi di rumah
sakit), dan juga bertanya serupa.

Objek sekaligus subjek yang dikejar dalam hidup
memang bermacam-macam. Ada yang mencari kekayaan, ada yang mengejar
keterkenalan, ada yang lapar dengan kekaguman orang, ada yang demikian
seriusnya di jalan-jalan spiritual sampai mengorbankan hampir segala-galanya.
Dan tentu saja sudah menjadi hak masing-masing orang untuk memilih jalur bagi
diri sendiri.

Namun yang paling banyak mendapat pengikut adalah
mereka yang berjalan atau berlari memburu kekayaan (luar maupun dalam).
Pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual
sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh
gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Sebagian bahkan mengambil jalan-jalan
pintas.

Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan
yang bisa dimengerti. Terutama dengan kaya materi manusia bisa melakukan lebih
banyak hal. Dengan kekayaan di dalam, manusia bisa berjalan lebih jauh di
jalan-jalan kehidupan. Dan soal jalur mana untuk menjadi kaya yang akan
ditempuh, pilihan yang tersedia memang amat melimpah. Dari jualan asuransi, ikut
MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha, sampai dengan jadi pejabat tinggi.
Namun, salah seorang orang bijak dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan:
contentment is the greatest wealth. Tentu agak unik kedengarannya. Terutama di
zaman

yang serba penuh dengan hiruk pikuk pencarian keluar.
Menyebut cukup sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu bisa dikira dan dituduh
miring.

Ada yang mengira menganjurkan kemalasan, ada yang
menuduh sebagai antikemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti
ini. Cuma, bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh
di jalur-jalur "cukup", segera akan mengerti, memang merasa cukuplah
kekayaan manusia yang terbesar. Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha
dan bekerja.

Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam
memang berputar melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan
mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun
terimalah hasilnya dengan rasa cukup.

Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas
dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja
kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan
pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan. Tidak saja dengan diri
sendiri, keluarga, tetangga serta teman. Dengan semua perwujudan Tuhan manusia
mudah terhubung ketika rasa syukurnya mengagumkan. Tidak saja dalam keramaian
manusia menemukan banyak kawan, di hutan yang paling sepi sekalipun ia
menemukan banyak teman.

Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya
merasa cukup jauh dari lebih sekadar memaksa diri agar damai. Awalnya, apapun
memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah
kebiasaan, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke sarang laba-laba
kehidupan.

Di mana semuanya (manusia, binatang, tetumbuhan,
batu, air, awan, langit, matahari, dll) serba terhubung, sekaligus menyediakan
rasa aman nyaman di sebuah titik pusat.

Orang tua mengajarkan hidup berputar seperti roda.
Dan setiap pencarian kekayaan ke luar yang tidak mengenal rasa cukup, mudah
sekali membuat manusia terguncang menakutkan di pinggir roda. Namun di titik
pusat, tidak ada putaran. Yang ada hanya rasa cukup yang bersahabatkan hening,
jernih sekaligus kaya. Bagi yang belum pernah mencoba, apa lagi diselimuti
ketakutan, keraguan dan iri hati, hidup di titik pusat berbekalkan rasa cukup
memang tidak terbayangkan. Hanya keberanian untuk melatih dirilah yang bisa
membukakan pintu dalam hal ini.

Hidup yang ideal memang kaya di luar sekaligus di
dalam. Dan ini bisa ditemukan orang-orang yang mampu mengkombinasikan antara
kerja keras di satu sisi, serta rasa cukup di lain sisi. Bila orang-orang
seperti ini berjalan lebih jauh lagi di jalan yang sama, akan datang suatu waktu
dimana amat bahagia dengan hidup yang bodoh di luar, namun pintar mengagumkan
di dalam. Biasa tampak luarnya, namun luar biasa pengalaman di dalamnya. Ini
bisa terjadi, karena rasa cukup membawa manusia pelan-pelan mengurangi
ketergantungan akan penilaian orang

lain. Jangankan dinilai baik dan pintar, dinilai
buruk sekaligus bodoh pun tidak ada masalah.

Salah satu manusia yang sudah sampai di sini bernama
Susana Tamaro. Dalam novel indahnya berjudul ‘pergi ke mana hati membawamu’ ia
kurang lebih menulis: kata-kata ibarat sapu. Ketika dipakai menyapu, lantai
lebih bersih namun debu terbang ke mana-mana. Dan hening ibarat lap pel. Lantai
bersih tanpa membuat debu terbang. Dengan kata lain, pujian, makian, kekaguman,
kebencian dan kata-kata manusia sejenis, hanya menjernihkan sebagian, sekaligus
memperkotor di bagian lain (seperti sapu). Sedangkan hening di dalam bersama
rasa cukup seperti lap pel, bersih, jernih tanpa menimbulkan dampak negatif.

Manusia lain yang juga sampai di sini bernama Chogyum
Trungpa, di salah satu karyanya yang mengagumkan (Shambala, The sacred path of
the warrior), ia menulis: this basic wisdom of Shambala is that in this world,
as it is, we can find a good and meaningful human life that will also serve
others. That is our richness. Itulah kekayaan yang mengagumkan, bahwa dalam
hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) kita bisa menemukan
kehidupan berguna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain. ***

Gede Prama adalah pencinta keheningan, tinggal di
Jakarta (Sinar Harapan)

KOTA KEHENINGAN DAN KEDAMAIAN

July 6th, 2008 by witamandiri

Posted
by Gede Blue on 2003-02-01
 
Oleh:
Gede Prama

Agak berbeda dengan sejumlah orang yang marah kalau
profesinya dijadikan sumber tawa, saya kerap belajar banyak dari tawa dan
canda. Karena ia kaya inspirasi dan imajinasi. Di sebuah bar yang lagi sepi
pengunjung, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki parlente memasuki bar sambil
memesan minum. Heran dengan penampilan pria yang amat parlente ini, penjaga bar
bertanya tentang profesi dan pekerjaan orang terakhir. Dengan mantap laki-laki
dandy ini menyebut profesi konsultan. Tentu saja penjaga bar mengerutkan
alisnya sebagai tanda tidak tahu. Maka bertanyalah ia : ‘Konsultan, mahluk apa
itu ?’.

Sebagaimana konsultan umumnya yang senantiasa bicara
meyakinkan, dengan tenang ia menjawab : ‘A logical thinker’. Mendengar jawaban
terakhir, penjaga bar semakin bingung. Menangkap mimik muka bingung, pria
parlente tadipun mencoba untuk menerangkannya dalam bahasa konsultan. ‘Anda
punya aquarium ?’, demikian konsultan tadi memulai pembicaraan. Dan dijawab
dengan anggukan kepala oleh lawan bicaranya. ‘Nah, kalau punya aquarium berarti
Anda pencinta ikan’. Kali ini juga dijawab dengan mengangguk. ‘Bila Anda
pencinta ikan, berarti Anda juga menyayangi istri’. Tidak ada alternatif lain
bagi penjaga bar terkecuali mengiyakan. ‘Kalau Anda punya istri, itu artinya
Anda punya anak’. Dan ajaibnya, kali inipun bar tender ini

angguk-angguk tanda mengiayakan. Terakhir, setelah
menghabiskan minuman, sambil berjalan ke luar bar, laki-laki parlente tadi
menyimpulkan pembicaraannya begini : ‘Kesimpulannya, kalau Anda punya anak
artinya Anda tidak impoten’.

Di luar pengetahuan penjaga bar dan konsultan tadi,
rupanya keseriusan pembicaraan tadi diperhatikan tukang sapu dari jauh. Begitu
sang konsultan keluar bar, maka tukang sapu juga bertanya keherananan : ‘siapa
tadi yang pakaiannya amat parlente ?’. Menirukan gaya bicara konsultan, penjaga
bar menjawab yakin : ‘Oh tadi itu konsultan’. Tukang sapu ini lebih bingung
lagi : ‘apa itu konsultan ?’. Meniru jawaban konsultan, bar tender menjawab : a
logical thinker. Tentu saja lawan biacara terakhir bingung. Berhasil dicuci
otak oleh konsultan, penjaga bar menjelaskannya dengan cara yang sama. ‘Punya
aquarium?’. Dan tukang sapu menggelengkan kepalanya. Melihat gelengan kepala
terakhir maka bar tender menyimpulkannya secara yakin : ‘Kalau Anda tidak punya
aquarium, artinya Anda impoten’.

Sebelum tertawa disebut sebagai salah satu bentuk
terorisme – karena setelah kejadian penghancuran WTC New York sedikit-sedikit
penguasa menyebut teroris - sebaiknya Anda tertawalah sebanyak-banyaknya. Yang
jelas, dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya demikianlah cara pikiran
bekerja : mengkotak-kotakkan. Dengan tidak ada maksud membuka perang dengan
pengagum pikiran, sejak dulu pikiran memang bermata ganda : membantu sekaligus
membatasi. Sulit membayangkan bagaimana wajah kehidupan manusia tanpa dibantu
pikiran. Sama sulitnya membayangkan kehidupan tanpa pikiran, kita juga sulit
membantah kenyataan pikiran sebagai pembatas manusia dalam melakukan
perjalanan. Dalam kurun waktu ribuan tahun, manusia sudah dipenjara pikiran.

Dibawanya manusia pada hidup yang penuh dengan kotak.
Ada kotak bangsa, agama, bahasa. Belum lagi kotak-kotak mengerikan yang bernama
kebencian dan kemarahan. Sebagai hasilnya, masalah-masalah fundamental seperti
ketakutan, konflik, kehidupan yang kehilangan arti, tetap saja ada sepanjang
zaman.

Sadar dengan aspek kedua pikiran sebagai pembatas
perjalanan inilah, maka orang-orang seperti J. Krishnamurti, Dalai Lama
dan praktisi meditasi intens lainnya, mengajak kita untuk belajar melampaui
pikiran. Kendaraan yang bisa membawa kita ke sana ada banyak sekali, salah satu
yang dikenal luas bernama meditasi.

Bedanya dengan pikiran, meditasi tidak bisa diwakili
oleh kata-kata manapun. Ia adalah sebuah kegiatan mengalami di dalam diri.
Semakin ia dipaksa untuk didefinisikan, mudah sekali orang tergelincir dalam
kedangkalan-kedangkalan. Apapun kendaraan yang dipakai dan jalan yang ditempuh,
ada satu hal yang layak dipertimbangkan dalam upaya melampaui pikiran :
keikhlasan. Sebuah kualitas yang sudah lama dibuat tenggelam oleh kegemaran
pikiran untuk ‘berdagang’ (baca : berkalkulasi) dengan kehidupan dan Tuhan. Ada
yang hanya sembahyang lima waktu setelah jadi manajer. Ada yang berdemonstrasi
mau menghancurkan pabrik hanya karena isu ketidakadilan. Dalam skala yang lebih
besar, sahabat-sahabat yang pro dan anti Amerika setelah kejadian hancurnya WTC
New York oleh serangan teroris, bahkan membuka jalan bagi terealisasinya
ramalan clash civilization. Ibarat langit- angit kamar yang membatasi
ketinggian pandangan, demikianlah pikiran membatasi perjalanan menuju
keikhlasan.

Perjalanan terakhir menjadi super sulit, terutama
pada kehidupan yang sudah demikian mesranya ‘berselingkuh’ dengan pikiran. Dari
perselingkuhan terakhir, mudah sekali keluar stempel seperti bodoh, tidak
mengerti, tidak tahu dan sejenisnya terhadap keikhlasan.

Sehingga mudah dimaklumi kalau Rabin Dranath
Tagore dalam The Heart of God
, pernah menulis : “Let this be my last word,
that I trust in Your love”. Terinspirasi dari sinilah, maka saya senantiasa
mengawali doa, agar semua permohonan saya diganti dengan keikhlasan. Sebab,
hanya keikhlasanlah yang bisa mengganti setiap kota dan desa yang saya kunjungi
menjadi kota dan desa keheningan dan kedamaian.

Setidaknya itulah yang bisa saya tuturkan ke Anda
dalam inner journey sejauh ini. Dan ini tidak ada sangkut pautnya dengan
hubungan antara kepemilikan aquarium dan impotensi. Ha ha ha!

KOSONG ITU ISI

July 6th, 2008 by witamandiri

Posted by Gede Blue on 2003-06-10

Oleh: Gede Prama

Ada sebuah wilayah yang jarang ditelusuri ilmu
pengetahuan, wilayah tersebut diberi sebutan kosong. Dalam matematika, ia
diberi simbul angka nol. Dalam tataran wacana yang biasa, ia diidentikkan
dengan ketiadaan. Sesuatu yang memang tidak ada, tidak bisa dijelaskan, tidak
terlihat, apa lagi bisa diraba. Pokoknya, kosong itu berarti tidak ada.

Agak berbeda dengan orang barat memandang kekosongan,
orang timur mengenal istilah koan. Sebagaimana hakekat kosong yang tidak bisa
dijelaskan, ide terakhir juga bersifat unexplainable. Ia mungkin hanya bisa
ditanyakan. Pertanyaa koan yang paling terkenal berbunyi begini : bagaimanakah
bunyi tepuk tangan yang hanya dilakukan oleh sebelah tangan ?

Siapa saja akan mengalami kesulitan dalam menjawab
pertanyaan terakhir. Lebih-lebih kalau sumber jawaban yang dimiliki hanya
bersumber pada logika-logika empiris. Sulit dibayangkan, ada seseorang atau
sekumpulan orang yang pernah mendengar bunyi tepuk tangan yang hanya dilakukan
sebelah tangan. Sama sulitnya dengan membuat nyata angka nol.

Tanpa bermaksud menjawab pertanyaan terakhir,
sekarang coba perhatikan cangkir, gelas, piring, rumah, lapangan sepak bola,
sampai dengan alam semesta. Bukankah semua itu jadi berguna karena menyimpan
ruang kosong. Sulit dibayangkan, bagaimana kita manusia bisa memetik guna dan
manfaat dari cangkir, gelas, rumah dan lapangan sepak bola yang penuh. Apa lagi
ruang kosong super besar yang menutup alam semesta. Andaikan ruang kosong
terakhir tertutup benda yang memungkinkan kekosongan tadi lenyap, dari mana
manusia menghirup udara ? Bukankah semua kehidupan akan mati percuma dan tiada
guna ?

Dalam bingkai-bingkai pertanyaan (bukan pernyataan)
seperti ini, saya menjaga jarak terhadap sinyalemen matematika yang
mengidentikkan kekosongan dengan angka nol yang berarti tiada. Kekosongan,
setidaknya dalam bingkai pertanyaan di atas, memiliki arti, guna, serta manfaat
yang tidak kalah dengan apa-apa yang sejauh ini disebut berisi. Bahkan,
sebagaimana dicontohkan oleh lapangan sepak bola dan alam semesta di atas,
kekosongan lebih ‘berisi’ dari apa-apa yang sejauh ini disebut dengan isi.
Bahkan, dalam beberapa bukti (seperti udara yang bermukim di ruang kosong)
kekosongan menghadirkan substansi manfaat yang lebih besar.

Setelah dibuat berkerut sebentar oleh penjelasan di
atas, mari kita bawa perdebatan tentang kekosongan terakhir ke dunia mind. Ilmu
pengetahuan dan sekolah memang membuat mind jadi penuh dengan isi. Ada isi yang
bernama fisika, matematika, statistika, manajemen dan masih banyak lagi yang
lain. Dan berbeda dengan isi rumah, atau isi cangkir, isi mind memiliki
pengaruh yang besar dalam hal bagaimana mata melihat dunia.

Orang-orang yang tahu dan paham betul akan
statistika, memiliki penglihatan berbeda dengan mereka yang awam akan
statistika. Serupa dengan itu, sebagai orang yang lahir dan tumbuh di dunia
manajemen, saya memiliki pandangan yang sering kali berbeda dengan
sahabat-sahabat yang tidak pernah tumbuh di lahan manajemen. Hanya kedewasaan
dan kearifan yang memungkinkan perbedaan terakhir kemudian bergerak maju ke
dalam pengkayaan-pengkayaan.

Sayangnya, tidak banyak yang memiliki kedewasaan dan
kearifan terakhir. Sehingga jadilah fully occupied mind – baik karena penuh
oleh pengetahuan, pengalaman, kepentingan maupun yang lain – tidak sebagai
sumber dari banyak hal yang berisi. Sebaliknya, menjadi awal dari
penghancuran-penghancuran yang tidak berguna dan berbahaya.

Sebutlah wacana-wacana dikotomis benar-salah,
sukses-gagal, sedih-gembira. Ia adalah hasil ikutan dari over intelectualizing
yang dilakukan oleh kepala-kepala yang penuh dengan isi. Ia memang memenuhi
banyak buku, jurnal, majalah, koran. Dan pada saat yang membuat semuanya jadi
fully occupied. Sehingga tidak menyisakan sedikitpun ruang kosong wacana. Sebagai
hasilnya, sudah mulai ada orang yang gerah kepanasan, bahkan ada yang mulai
tidak bisa bernafas, dan pada akhirnya mati suri tanpa disadari.

Satu spirit dengan kekosongan alam semesta yang
memungkinkan manusia menghirup udara gratis, mungkin ada manfaatnya untuk
menoleh pada unoccupied mind, unborn mind, atau apa yang kerap saya sebut
dengan unschooled mind. Sebagaimana tubuh yang memerlukan udara segar, mind
juga memerlukan kesegaran-kesegaran.

Dan di titik ini, kekosongan adalah alternatif yang
layak untuk direnungkan. Coba Anda perhatikan apa reaksi orang-orang kalau
tiba-tiba di depannya ada mobil bergerak menuju dirinya. Entah orang kaya,
orang miskin, orang desa, orang kota, orang tua maupun muda, beresponnya sama :
lari atau melompat ketakutan. Saya kerap memperhatikan bunyi anak-anak
menangis. Entah itu di Inggris, Australia, Prancis, Amerika atau Indonesia,
tangisan bayi senantiasa sama. Ini hanya sebagian contoh dan bukti the unborn
mind. Percaya atau tidak, dalam keadaan-keadaan tertentu, semua manusia bisa
kembali ke sana, ke alam kosong yang penuh dengan isi.

Ada orang yang takut memang pergi ke sana. Dan saya
termasuk orang yang rajin bereksplorasi di sana. Mirip dengan alam pegunungan
yang tidak terjamah manusia, di mana udaranya demikian segar dan menjernihkan,
unborn mind juga serupa. Kesegaran, kejernihan dan kebeningan hadir dalam dunia
kosong yang berisi. Paradoksnya, bukankah tulisan pendek ini juga penuh dengan
isi ? Karena itulah saya menyesal besar pernah menulis tulisan ini.

MENDENGARKAN BAMBU BICARA

July 6th, 2008 by witamandiri

Posted by Gede Blue on 2003-06-10

Oleh: Gede Prama

Terus terang, lama saya memendam keingintahuan,
kenapa banyak lukisan-lukisan yang datang dari Cina dan Jepang berlatar
belakang pohon bambu ? Sampai-sampai sempat bertanya ke sana ke mari. Dan rasa
ingin tahu ini sedikit terobati ketika bertemu buku dengan judul The Bamboo
Oracle karangan Chao-Hsiu Chen. Karya jernih ini bertutur banyak tentang
kebijakan-kebijakan Confusius melalui simbul-simbul bambu. Rupanya, pohon yang
menarik perhatian saya ini, menyimpan banyak sekali simbul dari sifat-sifat
mulia.

Sebutlah sifat bambu yang tidak memiliki bunga dan
buah. Tidak sama dengan pohon lainnya yang senantiasa sombong dengan bunga dan
buahnya, bambu tetap berdiri tegak tanpa sumber kesombongan terakhir. Semua ini
seperti sedang mengingatkan kita manusia, hasil dalam kehidupan, kalau
dibiarkan menjadi kekuatan pendikte kesombongan dan kecongkakan, maka mudah
sekali membuat orang ‘berakar ke luar’.

Berbeda dengan bambu yang berakar kuat ke dalam,
orang-orang yang didikte kesombongan dan kecongkakan, amat dan sangat
tergantung pada komentar, pendapat, pujian dan makian orang lain. Dan
sebagaimana semua kita tahu, di kaki langit manapun, dengan sikap dan prestasi
setinggi apapun, pujian dan makian orang akan senantiasa datang mengikuti.
Sehingga kalau pujian dan makian orang yang digunakan sebagai barometer
keberhasilan, maka siklus naik dan turun akan senantiasa ikut bersama kita.
Ketika dipuji naik siklusnya, tatkala dimaki turun mood-nya.

Kalau boleh jujur, tidak sedikit manusia yang
hidupnya dibuat lelah karena senantiasa mendaki dan menuruni siklus pujian dan
makian. Dibandingkan lelah naik turun, orang-orang seperti Kabir (salah seorang
seniman besar India), memilih untuk berakar ke dalam persis seperti bambu.
Dalam kehidupan yang berakar ke dalam, energi utama yang mendorong perubahan
dan kehidupan bukan lagi pujian dan makian orang lain, namun kenikmatan untuk
senantiasa bersyukur dalam melakukan perjalanan.

Mirip dengan anak-anak sekolah yang pergi tamasya dan
di dalam perjalanan selalu bernyanyi ‘di sini senang, di sana senang’,
demikianlah kira-kira kehidupan orang-orang yang berakar ke dalam. Kabir bahkan
pernah menyarankan untuk tidak perlu pergi ke taman, gunung, pantai dan tempat
rekreasi lainnya. Sebab, di dalam sini sudah tersedia keindahan dan kenikmatan
yang tidak terbatas jumlahnya. Dan kalau rekreasi ke luar kita membayar mahal,
rekreasi ke dalam biayanya amatlah murah secara materi. Hanya diperlukan duduk,
hening, syukur dan tersenyum.

Mirip dengan bambu yang kuat dan kokoh karena berakar
ke dalam, demikian juga kehidupan banyak orang yang berakar ke dalam. Tidak ada
satupun kekuatan pendikte dari luar yang bisa merobohkannya. Sayang sekali,
kehidupan manusia modern tidak mau mendengarkan bambu, untuk kemudian berakar
ke luar. Sebagai hasilnya, kebencian, peperangan, penderitaan dan sejenisnya,
datang tanpa mengenal rasa lelah.

Sebutlah tragedi meledaknya World Trade Centers New
York yang dibumi hanguskan oleh teroris 11 September 2001 lalu, yang belakangan
membuka pintu kebencian yang amat mencekam, apa lagi penyebab utamanya kalau
bukan kehidupan yang berakar ke luar. Dengan judul-judul seperti memberi
pelajaran pada adi kuasa, menegakkan martabat bangsa, ada orang yang bahkan
rela mati dan menghancurkan surga di dalam diri, hanya untuk mengundang decak
kagum orang lain.

Disamping berakar kuat ke dalam, bambu juga
senantiasa hidup dalam keheningan dan kerendahhatian. Lihatlah ketika angin
bertiup, ia hanya bergesek-gesek kecil dengan sahabatnya, dan kemudian
menimbulkan suara desis yang hening. Dan hening terakhir adalah sejenis
kualitas yang sudah lama hilang dari dunia manusia, untuk kemudian diganti
dengan kekisruhan, dendam dan sejenisnya. Berbeda dengan dendam dan kekisruhan
lain yang mengenal kotak dan pagar-pagar pemisah, keheningan ala bambu sudah
lama membuang kotak dan pagar-pagar terakhir. Ketika angin lembut datang, ia
berdesis hening, ketika angin ribut datang ia juga berdesis hening.

Seolah-olah sedang mengingatkan, hanya dengan
keheninganlah kejernihan pandangan bisa dipertahankan. Ketika peledakan gedung
WTC New York baru terjadi, sebagai pribadi hati sayapun menangis, sambil
berharap inilah saatnya bagi Amerika untuk menunjukkan kedigdayaannya yang
sebenarnya. Ketika itu, lewat dalam bayangan saya sebagai manusia, George W.
Bush berpidato penuh senyum : ‘Kita amat terpukul dan berduka dengan kejadian
ini. Namun, karena kita bangsa besar, inilah saatnya untuk menunjukkan pada
dunia kebesaran kita. Di mana dalam kebesaran dan kedigdayaan, kebencian
tidaklah sepantasnya dilawan dengan kebencian, kedengkian tidaklah selayaknya
direspons dengan kekisruhan pikiran’. Setidak-tidaknya itulah prediksi saya
tentang pidato Bush di hari berikutnya.

Sayang sekali, prediksi saya tentang pidato Bush
salah besar. Kedigdayaan Amerika yang dibangun dalam kurun waktu lama bahkan
dijatuhkan oleh serangkaian kebencian dan kekisruhan. Ketika tulisan ini
dibuat, wajah dunia memang terbelah. Sebagaimana cerita kehidupan yang berakar
ke luar, ada yang memuji Amerika, ada juga yang mencaci Amerika. Dan memang
demikianlah hakekat kehidupan.

Anda bebas memilih sikap dalam hal ini, dan saya
memilih untuk duduk hening mendengarkan suara-suara bambu. Dan sebagaimana
disarikan secara ringkas oleh Chao-Hsiu Chen, bambu senantiasa silent, modest,
deeply rooted. Hening, sopan dan berakar ke dalam. Setidak-tidaknya demikianlah
cita-cita saya dalam perjalanan panjang yang bernama kehidupan.