Posted by Gede Prama on
2005-04-15
SEORANG sahabat yang mulai kelelahan hidup, pagi
bangun, berangkat ke kantor, pulang malam dalam kelelahan, serta amat jarang
bisa merasakan sinar matahari di kulit, kemudian bertanya: untuk apa hidup ini?
Ada juga orang tua yang sudah benar-benar lelah mengungsi (kecil mengungsi di
rumah orang tua, dewasa mengungsi ke lembaga pernikahan, tua mengungsi di rumah
sakit), dan juga bertanya serupa.
Objek sekaligus subjek yang dikejar dalam hidup
memang bermacam-macam. Ada yang mencari kekayaan, ada yang mengejar
keterkenalan, ada yang lapar dengan kekaguman orang, ada yang demikian
seriusnya di jalan-jalan spiritual sampai mengorbankan hampir segala-galanya.
Dan tentu saja sudah menjadi hak masing-masing orang untuk memilih jalur bagi
diri sendiri.
Namun yang paling banyak mendapat pengikut adalah
mereka yang berjalan atau berlari memburu kekayaan (luar maupun dalam).
Pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual
sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh
gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Sebagian bahkan mengambil jalan-jalan
pintas.
Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan
yang bisa dimengerti. Terutama dengan kaya materi manusia bisa melakukan lebih
banyak hal. Dengan kekayaan di dalam, manusia bisa berjalan lebih jauh di
jalan-jalan kehidupan. Dan soal jalur mana untuk menjadi kaya yang akan
ditempuh, pilihan yang tersedia memang amat melimpah. Dari jualan asuransi, ikut
MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha, sampai dengan jadi pejabat tinggi.
Namun, salah seorang orang bijak dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan:
contentment is the greatest wealth. Tentu agak unik kedengarannya. Terutama di
zaman
yang serba penuh dengan hiruk pikuk pencarian keluar.
Menyebut cukup sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu bisa dikira dan dituduh
miring.
Ada yang mengira menganjurkan kemalasan, ada yang
menuduh sebagai antikemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti
ini. Cuma, bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh
di jalur-jalur "cukup", segera akan mengerti, memang merasa cukuplah
kekayaan manusia yang terbesar. Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha
dan bekerja.
Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam
memang berputar melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan
mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun
terimalah hasilnya dengan rasa cukup.
Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas
dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja
kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan
pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan. Tidak saja dengan diri
sendiri, keluarga, tetangga serta teman. Dengan semua perwujudan Tuhan manusia
mudah terhubung ketika rasa syukurnya mengagumkan. Tidak saja dalam keramaian
manusia menemukan banyak kawan, di hutan yang paling sepi sekalipun ia
menemukan banyak teman.
Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya
merasa cukup jauh dari lebih sekadar memaksa diri agar damai. Awalnya, apapun
memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah
kebiasaan, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke sarang laba-laba
kehidupan.
Di mana semuanya (manusia, binatang, tetumbuhan,
batu, air, awan, langit, matahari, dll) serba terhubung, sekaligus menyediakan
rasa aman nyaman di sebuah titik pusat.
Orang tua mengajarkan hidup berputar seperti roda.
Dan setiap pencarian kekayaan ke luar yang tidak mengenal rasa cukup, mudah
sekali membuat manusia terguncang menakutkan di pinggir roda. Namun di titik
pusat, tidak ada putaran. Yang ada hanya rasa cukup yang bersahabatkan hening,
jernih sekaligus kaya. Bagi yang belum pernah mencoba, apa lagi diselimuti
ketakutan, keraguan dan iri hati, hidup di titik pusat berbekalkan rasa cukup
memang tidak terbayangkan. Hanya keberanian untuk melatih dirilah yang bisa
membukakan pintu dalam hal ini.
Hidup yang ideal memang kaya di luar sekaligus di
dalam. Dan ini bisa ditemukan orang-orang yang mampu mengkombinasikan antara
kerja keras di satu sisi, serta rasa cukup di lain sisi. Bila orang-orang
seperti ini berjalan lebih jauh lagi di jalan yang sama, akan datang suatu waktu
dimana amat bahagia dengan hidup yang bodoh di luar, namun pintar mengagumkan
di dalam. Biasa tampak luarnya, namun luar biasa pengalaman di dalamnya. Ini
bisa terjadi, karena rasa cukup membawa manusia pelan-pelan mengurangi
ketergantungan akan penilaian orang
lain. Jangankan dinilai baik dan pintar, dinilai
buruk sekaligus bodoh pun tidak ada masalah.
Salah satu manusia yang sudah sampai di sini bernama
Susana Tamaro. Dalam novel indahnya berjudul ‘pergi ke mana hati membawamu’ ia
kurang lebih menulis: kata-kata ibarat sapu. Ketika dipakai menyapu, lantai
lebih bersih namun debu terbang ke mana-mana. Dan hening ibarat lap pel. Lantai
bersih tanpa membuat debu terbang. Dengan kata lain, pujian, makian, kekaguman,
kebencian dan kata-kata manusia sejenis, hanya menjernihkan sebagian, sekaligus
memperkotor di bagian lain (seperti sapu). Sedangkan hening di dalam bersama
rasa cukup seperti lap pel, bersih, jernih tanpa menimbulkan dampak negatif.
Manusia lain yang juga sampai di sini bernama Chogyum
Trungpa, di salah satu karyanya yang mengagumkan (Shambala, The sacred path of
the warrior), ia menulis: this basic wisdom of Shambala is that in this world,
as it is, we can find a good and meaningful human life that will also serve
others. That is our richness. Itulah kekayaan yang mengagumkan, bahwa dalam
hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) kita bisa menemukan
kehidupan berguna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain. ***
Gede Prama adalah pencinta keheningan, tinggal di
Jakarta (Sinar Harapan)